Hai, Apa kabar?
Tidak terasa ya, sudah lama kita tidak bertemu. Bertemu denganmu adalah syukur dan proses pendewasaan yang sudah punya cerita di bagian tertentu hidupku. Barangkali kau membaca ini dengan kebetulan atau tidak kebetulan kuharap kau mengerti.
Kukira dulu itu cuman sekadar main-main saat memulai. Nyatanya kita sampai di garis-garis paling menegangkan. Aku selalu rindu ingin menyampaikan ini padamu. Aku selalu ingin kau tahu bahwa akhir-akhir ini aku banyak kalah dan jatuhnya. Aku tahu, hubungan bukan hanya soal angka, tapi juga tentang sebuah percaya dan kepastian yang menjadi komposisi untuk bertahan lebih lama kan?
Kau menanggalkan aku saat jatuhku betul-betul susah berdiri,banyak ketidakadilan yang kudapatkan, rindu yang pernah terjadi sempat membuatku sembuh walau pada akhirnya kau memilih abai.
Aku berusaha tumbuh setiap harinya. Kukalahkan segala hal yang membuatku tak baik-baik, sulit sekali rasanya ketika semesta mengalahkan usahaku untuk memperjuangkanmu, aku dibunuh rasa bersalah, apa yang membuatmu suka pergi tanpa alasan? Apa yang membuatmu enggan menjelaskan kesalahapahaman kita? Aku maha penasaran hari itu.
Entahlah, waktu membuatku semakin kuat. Sayapku ditempah semakin sempurna. Yang bukan milikku sekuat aku memaksa, dia tidak akan bisa menjadi tempatku pulang.
Tapi sesekali aku menipu diriku. Kubilang aku mampu melakukan apa saja yang membuatku bahagia. Jika kau bisa, mengapa aku tidak? Hasilnya harus sama-sama mampu. Aku melakukan hal-hal yang membuatku bernyawa. Belajar, bekerja, tertawa, seperti orang yang mengharap kuat.
Tidak langsung sampai pada tujuan, beberapa kali kakiku tak kuat bertumpu. Aku kehilangan warasku, menyalahkan apa saja yang membuat kita pisah. Waktu itu aku dihajar atas pernyataan kau sudah punya seseorang. Sulit untuk kupahami bagaimana ini bisa terjadi.
Kerap kali aku pun egois, Kau tahu apa yang terjadi? Sosokmu hanya ilusi di sana. Tempat yang mempertemukan kita membuat rinaiku semakin penuh. Tenggelam dalam ketidakmampuan tanpamu.
Kita sudah sungguhan selesai. Setiap yang terjadi akan selalu terlewat tanpa ada arti. Segala-galanya sudah kandas dan tidak akan pernah menuju kata serius.
Setelahmu, aku sempat lupa mencintai diriku. Di sana selalu membayang sosokmu, alasan tidak pernah mengikhlaskan segala tentangmu. Tamu yang baru tidak bisa mengganti tamu lama. Betah sekali aku menghafalmu. Tak mau lupa dan tak mau maju.
Setelahmu, semua nya mengajariku banyak hal yang kukira tak mampu. Mataku dipejamkan, diajak berdialog dari hati ke hati. Dituntun menerima kebenaran, dihadapkan pada nyata yang tidak bercampur mimpi. Kau bukan rumahku. Kau bukan tempatku mengadu lebih sungguh. Kitalah jalan-jalan putus itu, yang tidak akan pernah sampai pada kata sudah sampai pada rencana.
Sekarang aku sudah di sini, mengaku dan jujur pada hatiku. Ketika setelahmu tubuhku sudah banyak memaafkan atas diri yang tak sempat tidak mau dimaafkan. Bahagialah selalu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar